Postingan

Menampilkan postingan dengan label fiksi putri

[FF 200 Kata] Desa Kerdil

Gambar
Desa Kerdil. Satu kali berbuat dosa, tinggi badanmu akan bertambah 1 cm. Sesuai dengan sebutannya, Desa Kerdil berisi orang-orang yang bertubuh kerdil. Namun kerdil tak menjadikan pikiran mereka juga kerdil, justru sebaliknya, mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan. Berbeda lagi dengan desa sebelah, yaitu Desa Impian. Tinggi adalah definisi cantik di desa tersebut. Padahal cantik di mata Tuhan bukanlah perkara fisik, melainkan hati. Hanya saja itu semua telah membutakan hati mereka. Banyak wanita-wanita dari Desa Impian yang datang ke Desa Kerdil hanya untuk menggoda dan merebut para pria-pria di sana, bahkan yang telah beristri sekalipun. Maka tak heran, kegundahan hati para wanita di Desa Kerdil membuat kericuhan yang kemudian berakibat fatal. Kini mereka justru berlomba-lomba berbuat dosa. Ada yang mencuri pakaian di toko, ada yang menghina kaum sesamanya, ada yang menelantarkan anak-anaknya, bahkan yang teramat menyedihkan, mereka rela saling membunuh, demi ...

[Puisi] Secangkir Kopi Buatanku

Gambar
Secangkir kopi buatanku, kau biarkan dingin tak bergairah. Sedingin itu pulakah perasaanmu?  Sementara luka memaksa malam mengundang sunyi.  Dulu, bibirmu jadi saksi, secangkir kopi yang selalu menemani.  Namun kini tak lagi. Secangkir kopi kau biarkan diam, menunggu takdirnya terbuang sia-sia. Seperti pula aku yang kau biarkan membisu ketika langkahmu semakin menjauh. ** Suatu hari di bulan November 2018 -   @poetri_apriani

[Cerpen] Robusta Terakhir

Gambar
You can’t buy happiness, but you can buy coffee. And that’s pretty close . “Ini untukmu, robusta favoritmu,” aku menyodorkan beberapa kemasan kopi robusta favoritmu. Aku baru saja pulang dari Temanggung setelah beberapa hari ada pekerjaan dan menginap di sana. Temanggung memang dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar di Jawa Tengah. Dan robustanya terkenal dengan aroma yang lebih harum dibandingkan dengan robusta yang berasal dari daerah lainnya, cita rasa kopi ini tak akan ditemukan pada cita rasa kopi di daerah lainnya. “Ini favorit kitaaaaa!” ucapmu setengah berteriak. Kamu mulai bergegas ke pantry, mengambil dua buah cangkir kemudian meracik robusta tersebut untuk kita. “Secangkir robusta untukku, dan secangkir lagi untukmu,” kamu meletakkan secangkir kopi itu persis di depanku. “Oh iya, secangkir kopi yang ini telah aku tambahkan dengan beberapa sendok cinta,” lanjutmu. “Jadi secangkir kopi yang akan aku minum terdiri dari 50% robusta asli, dan 50...

[Cerpen] Rokok Membunuhmu

Gambar
Peringatan! Rokok membunuhmu. Bungkus pertama aku baik-baik saja. Bungkus kedua aku masih hidup. Bungkus ketiga aku belum juga mati. Bungkus keempat aku mulai terluka. Bungkus kelima, jika luka berlanjut hubungi Tuhan. Barry merintih menahan perih. Puntung-puntung rokok tergeletak di samping tubuh mungilnya. Bulan depan usianya menginjak angka delapan. Entah sudah berapa banyak puntung rokok yang melukai tubuhnya. Lelaki bertubuh kekar itu terus menerus menempelkan puntung demi puntung rokok ke tubuh Barry. "Ampun Om, sakit Om." "Ngapain aja lo seharian cuma dapet uang segini, hah?!!" Barry masih berusaha keras menghubungi Tuhan. "Tuhan, aku ingin bertemu dengan-Mu, aku benci puntung rokok-rokok ini, bisakah Kau panggil aku sekarang?" Tuhan tak menjawab. Bungkus keenam air matanya mengalir makin deras. Bungkus ketujuh napasnya masih tersisa. Bungkus kedelapan puntung-puntung rokok itu berhasil mengantarkannya bertemu dengan Tuhan. ...

[Cerpen] Sepucuk Surat dari Tuhan

Gambar
Sabtu malam, November di minggu pertama, di sebuah taman yang remang-remang, bibirmu dan bibirnya menyatu. Security bertubuh merah dan bertanduk dua itu tengah berjaga, merayu kalian untuk menjiwai gairah muda yang meletup-letup. Pukul tiga dini hari, security itu masih setia menemani kalian dan muda-mudi lainnya yang tengah berpadu kasih. Makin malam maka semakin banyak sepasang kekasih yang datang, menikmati waktu berjam-jam namun tetap terasa singkat. Yah, begitulah risiko jatuh cinta. Selama apapun akan terasa singkat. Pukul empat, ayam mulai berlomba menuju garis finish, perlombaan mengepakkan sayap dan seriosa, itu lumrah terjadi setiap hari. Sepucuk surat datang dari langit, tanpa ada seseorang yang mengantarnya dan tanpa ada perangko di sudut atas amplopnya. Mereka yang tengah terbuai nafsu lantas membuka surat tersebut, kemudian membacanya dengan seksama. Rupanya surat dari Tuhan: “dan jangan sekali-kali kalian membuat Aku cemburu, sesungguhnya ada jalan ...

[Cerpen] Rindu Sudah Kedaluwarsa

Gambar
Seperti biasa, aku memotret senyummu, kelak aku akan menyimpannya. Semoga bisa bertahan lebih lama. Biasanya kedaluwarsa dalam beberapa hari. Tapi sepertinya kali ini tidak, semoga saja. Jogja, 3 April, 19.58 WIB “Halo sayang, sudah makan?” “Aku tak lapar,” bibirmu mengerucut. “Ada apa? Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?” “Aku rindu kamu, aku benci rindu!” Aku menghela napas sepersekian detik, kemudian melanjutkan bicaraku, “Sayang, kamu tahu mengapa rindu tercipta?” Kamu menggeleng. Aku tahu betul, hatimu sedang tidak baik-baik saja. “Agar kita lebih menghargai kebersamaan,” lanjutku, kemudian menatapmu, matamu memerah, ada bulir bening yang hampir menetes dari sana. Hanya dalam hitungan minggu setelah kami berdua menikah, aku dipindahtugaskan ke Jogja, sementara dia – istriku, tetap menjalankan pekerjaannya di Bandung. Ya, kami terpisah jarak, dan kini sudah menginjak di tahun yang kedua. Jadwal kerja yang padat membuatku jarang pulang ke ...

[Puisi] Jihan Zahira

Gambar
Ah siapa yang tak jatuh cinta Pada wajah mungil jelita Melihatnya membuatku tak kuasa Tentangnya, ingin kutulis segala "Jihan tak boleh menangis, nanti Allah Marah", ucapnya Ah, siapa yang tak haru mendengarnya Usianya baru beranjak tiga Tegarnya bentuk kebesaran hatinya Sungguh kerdil aku merasa Betapa diri ini penuh alpa Sementara di luar sana Keluh kesah tak terhingga Terucap dari bibir penuh kata-kata Tapi tidak dengan Jihan Zahira Wahai Allah yang Maha Kuasa Ampunilah hamba yang penuh hina Leburkanlah segala dosa Taubat kami semoga Kau terima * Untuk semua jiwa-jiwa di sana, kuhaturkan segala doa, semoga selalu dalam lindungan-Nya. Oktober 2018 @poetri_apriani

[Cerpen] The Unspoken

Gambar
Teras Rumah, Pukul 06.00, Randi tengah merapikan kemeja dan celana panjangnya, rambutnya dibiarkan begitu saja tanpa disisir terlebih dahulu, sementara tangannya kemudian mengambil sepasang casual boots berwarna cokelat yang tergeletak di teras, tepatnya persis di depan pintu masuk. Semalam ia pulang amat larut sehingga lupa memperhatikan sepatunya, apakah sudah berada pada tempat semestinya atau tidak. Tidurnya hanya terhitung beberapa jam, itupun tergolong tak nyenyak, tubuhnya terasa pegal-pegal untung saja ia masih bisa bangun untuk melaksanakan sholat subuh walau tak dilakukan secara berjamaah di masjid terdekat. Seporsi sandwich telah berada di sakunya, "mempersingkat waktu sarapan", menurutnya. Pagi ini Randi harus sampai di kantor lebih awal karena ada beberapa hal yang harus ia persiapkan untuk keperluan meeting. Meeting selesai, semua berjalan dengan baik. Tapi seperti ada yang mengganjal di hati Randi, entah apa. Ia masih menerka-nerka. ** ...

[Cerpen] Pilu di Palu

Gambar
Guncangan. Masih begitu terasa, di tubuh mungilnya, tentu juga pada hatinya. "Kak, Ayah sama Bunda di mana?" Aldi menggeleng. Pertanyaan yang sama terus mengalir dari bibir Kirana, adiknya. Kadang pertanyaan lain juga muncul. "Kak, kita makan apa? Aku lapar." Dua kakak beradik itu kini tengah berada di tenda pengungsian. Bantuan demi bantuan semakin banyak berdatangan, mulai dari bantuan bahan makanan, pakaian, obat-obatan serta bantuan berbentuk moril. Ada juga bantuan yg tak terlihat, namun tulus diberikan, doa. Gempa berkekuatan 7.7 SR beberapa waktu lalu rupanya membuat kakak-beradik tersebut kehilangan kedua malaikat tak bersayap mereka, hingga kini Ayah dan Bunda mereka belum juga ditemukan. Sementara Tim SAR seakan tak pernah lelah untuk terus mencari dan mengevakuasi korban. Keduanya berhasil ditemukan di saluran air. Aldi mengalami luka di bagian pelipis, kaki dan tangan. Sementara si kecil Kirana mengalami luka kecil di bagian kepa...

[Puisi] Untitled

Gambar
Begini, tempo hari aku menanti kedatanganmu, yah walaupun kita hanya bersua lewat mimpi. Bagiku jarak bukanlah masalah. Percayalah, aku sungguh bahagia, aku begitu bersemangat setelahnya. Lirik demi lirik lagu favoritmu mengalun lembut di telingaku, ah kita pernah menyanyikannya bersama, bukan? Dan malam ini aku begitu mengharapkan kehadiranmu, karena rindu ini datang bersama pasukannya. Jangan lupa peluk aku ya, Bu!

Jodoh Tak Ke Mana, Sayang

Gambar
Memang benar, bahwa tak ada yang sia-sia dari sebuah penantian. Semua akan tiba pada saatnya, pada saat terbaik menurut Tuhan. “Cantiknya,” puji orang-orang yang melihatnya. Riasan natural ditambah dengan perpaduan warna hijab merah muda dan ungu yang melingkar di kepalanya membuat Rani tampil tak biasa hari ini. Hari ini adalah hari bahagianya, telah bertahun-tahun ia lewati dalam penantian juga doa. Dan ternyata Tuhan punya cara sendiri dalam mengabulkan harapnya selama ini. Usia Rani telah menginjak setengah abad, dan lelaki yang mengucap ijab kabul di sampingnya itu adalah lelaki yang usianya terpaut dua puluh tahun lebih muda darinya. Lelaki gagah itu bernama Bagas.

Lelaki yang Diterjang Kantuk Itu

Gambar
*) Kilau hari-hari Dan birunya langit Terhapus rasa indah Terpejam oleh lelah Sesekali kantuk menerjang Dibiarkannya angin membelai matanya, beberapa saat : Lelah dan kantuk melebur Sementara bunyi langkah kaki yang berlalu lalang tetap terdengar Seakan mengingatkan : Bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang

Masih Tentang Kamu

Gambar
Adakah yang lebih indah? Selain merapal rindu yang tak terbendung Menyebut namamu dalam setiap doaku Dan mengajakmu berkunjung dalam mimpi

Madu

Gambar
“Sayang, apa kamu akan suka bila aku berikan madu?” “Pasti, Sayang.” Lani tersenyum, tangannya masih sibuk melarutkan gula dalam secangkir teh hangat yang akan disajikan untuk suaminya. “Benarkah?” Suaminya bertanya lagi.

Menanti Galih Kembali

Gambar
Katanya, ia akan segera kaya raya dan bersedia menikahiku, asal aku mau bersabar menjaga cinta ini agar tidak padam. Ya, ia berjanji padaku, akan mencintaiku sepanjang usianya. Dan aku percaya itu. Galih, ia adalah kekasihku sejak enam bulan yang lalu. Ia seorang pekerja keras. Pagi hingga siang hari ia membantu Pak Manta berjualan sayur mayur di Pasar. Sore hari ia beristirahat sebentar, sementara malam hari ia juga mencari pekerjaan tambahan, uang yang dihasilkan pun lebih banyak dibanding hasil upah bekerja dengan Pak Manta.

Penjual Kopi yang Bangun Kesiangan

Gambar
Sepuluh menit lagi menuju pukul sebelas malam. Salim sudah hampir selesai merapikan kumpulan bangku dan meja di kedai kopinya. Kedua karyawannya baru saja pulang beberapa menit yang lalu. Temperatur ruangan menjadi semakin dingin, bersamaan dengan datangnya seorang wanita berbaju serba putih. Bergegas ia mendekati wanita berambut panjang tersebut sambil menyodorkan daftar menu.

Remaja

Gambar
secarik kertas berwarna biru muda tersimpan rapi di bawah meja ada pesan tersampaikan lewat kata kata yang terangkai melalui kertas dan pena

Sebuah Harapan

Gambar
Mungkin hati ini yang terlalu beku. Seperti takut berharap lalu dikecewakan, berharap lagi lalu dikecewakan lagi.

Langkah Kaki yang Tak Pernah Gontai

Gambar
Dia berjalan Meminjam hujan Untuk menyembunyikan  air matanya Dia duduk sejenak Meminjam angin Untuk menghapus peluhnya

Peternak Puisi

Gambar
Setiap harinya, ia bangun sebelum ayam berlomba untuk berkokok. Bergegas mandi kemudian bersiap menuju pasar. Di pasar yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah, ia berbelanja banyak kata yang nantinya ia rangkai menjadi sebuah kalimat, kemudian baris, dan menjadi bait-bait yang indah. Ia menamakan benda tersebut dengan puisi.