Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi 200 Kata

Seporsi Tahu Gejrot Ketika Hujan Datang

Gambar
Sore itu Jakarta diguyur hujan. Semua berlarian mencari tempat berteduh. Menunggu. Belasan menit terlewati, semua kembali seperti sedia kala. Seperti penjual tahu gejrot yang kembali meracik dagangannya dengan sepenuh hati. “Ah, rupanya rezeki masih berpihak padaku,” batinnya, ketika beberapa pembeli datang mengantri.

Kamu Cuma Mantan

Gambar
"Kita putus." Waktu itu kita tengah duduk berdua di sebuah kafe. Malam yang cerah, langit pun tak menumpahkan air walau hanya setetes, tapi kata-katamu bagai petir yang menyambar. "Apa? Salah aku apa, Sherly?" "Kamu nggak salah apa-apa. Cukup lupain aku aja."

Kenangan si Mbok

Gambar
Pukul tiga pagi, si Mbok sudah terbangun, bahkan tengah sibuk menyiapkan segala perlengkapan yang harus dibawa ke pasar, tas jinjing, beberapa lembar karung, dompet yang rata-rata berisi uang receh, juga jaket yang digunakan untuk menghangatkan tubuhnya dari gerimis yang beberapa hari ini sering turun pada tengah malam.

Kapan Putus?

Gambar
“Kenapa? Berantem lagi? Putus lagi?” Reno bertanya pada gadis yang tiba-tiba saja duduk dan menangis di hadapannya. Yang ditanya hanya mengangguk kemudian meneruskan tangisannya lagi, bahkan lebih keras dari sebelumnya. “ Udah jangan nangis , kan udah gue bilang Dery nggak cocok sama lo .” Ucap Reno sambil mengusap bahu Irna. “Tapi gue terlanjur cinta sama Dery.” “Cinta tapi nyakitin ! Nggak bosen kayak gitu terus ?!!” Sejurus kemudian Reno melangkah menuju kelas. Kelas yang letaknya persis di samping kelas Irna dan Dery. “Reno jangan tinggalin gue dong, gue masih pengen curhaaaaattt ..!”

Karena Kamulah Alasanku

Gambar
Minggu depan Gigih akan bertunangan dengan Cindy. Pertunangan? Bukankah itu seharusnya jadi kabar bahagia bagi siapa saja yang mendengarnya? Tapi berbeda denganku yang justru menganggap itu adalah kabar buruk! Aku baik-baik saja . Bisik Nana pada hatinya. Gadis lugu berambut panjang itu harus menerima kenyataan, bahwa Gigih–lelaki yang telah menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun–harus bertunangan dengan perempuan lain. Bahkan sebelumnya Gigih pernah berulang kali menyakitinya. Selingkuh . Jangan, jangan pernah sebut kata-kata itu di depan Nana, karena ia begitu takut, Gigih pernah berkali-kali mengulanginya. Sementara Nana? Hanya bisa menelan kegetiran, dan menerima semua, “ semua yang telah menjadi takdir Tuhan” , begitu Gigih bilang. Namun pada kenyataannya, Gigih selalu kembali mendapatkan hati Nana. Bodoh? Cinta kadang memang begitu.

Sesaat Berlalu

Gambar
Pernikahan kami menginjak bulan yang ke delapan, namun entah mengapa hatiku sedikitpun belum tertuju padamu. Dari awal aku sudah katakan, aku benci perjodohan ini, karena aku punya pilihan sendiri, dan dia kini terkatung-katung karena cintanya–aku–telah pergi meninggalkannya. Tak banyak hari yang kulewatkan bersamamu. Sepulang kerja aku lebih memilih menghabiskan waktuku bersama teman-teman hingga pulang larut malam, ketika kau sudah tertidur di meja makan, dengan berbagai menu kesukaanku. Kamu, ya kamu yang tak pernah lelah mencurahkan cintamu untukku, suamimu.

"Nak, Ini Sepatu Baru Untukmu.."

Gambar
Pagi itu Cecep tak mau sekolah. Wajahnya kusut seperti rambut Emaknya yang tak pernah disisir, seperti pikiran Emaknya yang carut-marut, hutang sana-sini belum terbayar, uang hasil berjualan di pasar dan gaji sebagai buruh cuci tak mampu mencukupi kebutuhannya juga anak semata wayangnya. Dalam atap yang sering bocor itu, mereka tinggal berdua.   

[FF200] Surat yang Telah Terbaca Tuhan

Gambar
Sudah belasan tahun menikah, kami belum juga dikaruniai seorang anak. Entah mengapa Tuhan belum juga mengabulkan keinginan kami, mungkin Tuhan belum membaca isi suratku. Malam ini, aku berkirim surat yang kesekian kalinya pada Tuhan, aku melakukannya  setiap menjelang tidur. "Semoga kali ini Tuhan membaca suratku." Harapku sambil meletakkan sepucuk surat tersebut di atas meja.

[FF200] Patah

Gambar
Aku menyusuri senja yang tampaknya enggan tersenyum. Senja yang angkuh , pikirku dalam hati. Aku tertatih memegang erat dadaku yang terlanjur sesak. Jika aku tak kuat menahannya, serpihan hati tampak berjatuhan sedikit demi sedikit. Di hijaunya rumput sore ini, serpihan hatiku tercecer bak dedaunan yang pergi tinggalkan rantingnya.

Izinkan Aku Melihat Senyummu, Franda

Gambar
Franda Jelita. Seperti namanya, wajahnya pun cantik jelita, pintar juga berbakat, sedari kecil ia sudah pandai menyanyi, dan ia juga pandai – memikat hatiku – tentunya. Rumahnya hanya berjarak sekitar lima ratus meter dari rumahku. Setiap kali ia lewat depan rumahku, hatiku bergemuruh, senangnya bukan main, namun tak pernah sedikitpun mata ini berani menatapnya. Cukup dengan memandangnya dari kejauhan, cukup begitu saja.