Postingan

Menampilkan postingan dengan label imas siti liawati

Menjejakkan Kaki ke Lampung, Membuka Kenangan Tentang Imas

Gambar
Semalam kita bersua, kamu datang dalam mimpiku, kamu tak henti-hentinya melemparkan senyum, aku tahu kamu telah bahagia di sana, di surga-Nya. Sabtu lalu, tepatnya tanggal 10 Februari 2018, langit masih sangat gelap, suara adzan subuh pun belum terdengar, dan saya sudah tiba di Lampung, tepat 40 hr setelah almh Imas Siti Liawati  berpulang kepada Yang Maha Kuasa. Saya bersama adiknya Syarifah Suri yang juga tinggal di Depok, sepakat mengunjungi Lampung untuk beberapa hari. Saya memang pernah berjanji kepada Imas, jika waktu mengizinkan, saya akan datang menjenguknya. Tapi kenyataannya Tuhan berkehendak lain, hingga Imas mengembuskan napas terakhir, saya belum juga menjejakkan kaki di Lampung.

Janji Mila (2)

Gambar
Janji Mila Part II Oleh : Putri Apriani dan Imas Siti Liawati [ cerita sebelumnya ] Mila gelisah. Sudah hampir lima belas menit berlalu, Kamal belum juga muncul. Padahal tadi laki-laki itu mengajaknya bertemu di café yang terletak di depan sekolah. Tetapi sampai saat ini batang hidung Kamal pun belum sama sekali terlihat. Ck, Sialan! kema… Mila baru saja mengumpat dalam hati ketika pintu café terbuka dan mendapati Kamal tengah terengah-engah menghampirinya. “ Sorry, sorry , Yang!” ucapnya dengan napas putus-putus. Ditariknya kursi yang berada di hadapan Mila. “Netty maksa harus nyelesein tugas kelompok hari ini. Jadi mau nggak mau aku telat kemari.” Ada tugas kelompok pada pelajaran Biologi di kelas dan sayangnya pembagian kelompok ditentukan guru. Tidak seperti biasa dimana siswa bebas memilih siapapun yang menjadi kelompoknya. Dan kali ini Mila hanya bisa gigit jari karena tak bisa sekelompok dengan pacarnya.

Kupu-kupu Malam

Gambar
Cerpen Kolaborasi Oleh: Imas Siti Liawati dan Putri Apriani "Bu, apa di sini ada surga?" tanya anakku, menggenggam kedua kakiku. Anakku semakin besar. Usianya kini menginjak angka lima. Pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan begitu saja, beberapa bisa kujawab, beberapa lagi tidak. Ada satu pertanyaan yang menjadi favoritnya, hampir setiap hari ia lemparkan pertanyaan itu padaku. Aku hanya dilempar pertanyaan, tapi rasanya mungkin hampir sama ketika aku dilempar dinamit berkekuatan tinggi.