Postingan

Menjejakkan Kaki ke Lampung, Membuka Kenangan Tentang Imas

Gambar
Semalam kita bersua, kamu datang dalam mimpiku, kamu tak henti-hentinya melemparkan senyum, aku tahu kamu telah bahagia di sana, di surga-Nya.
Sabtu lalu, tepatnya tanggal 10 Februari 2018, langit masih sangat gelap, suara adzan subuh pun belum terdengar, dan saya sudah tiba di Lampung, tepat 40 hr setelah almh Imas Siti Liawati berpulang kepada Yang Maha Kuasa. Saya bersama adiknya Syarifah Suri yang juga tinggal di Depok, sepakat mengunjungi Lampung untuk beberapa hari.
Saya memang pernah berjanji kepada Imas, jika waktu mengizinkan, saya akan datang menjenguknya. Tapi kenyataannya Tuhan berkehendak lain, hingga Imas mengembuskan napas terakhir, saya belum juga menjejakkan kaki di Lampung.

Jodoh Tak Ke Mana, Sayang

Gambar
Memang benar, bahwa tak ada yang sia-sia dari sebuah penantian. Semua akan tiba pada saatnya, pada saat terbaik menurut Tuhan.
“Cantiknya,” puji orang-orang yang melihatnya. Riasan natural ditambah dengan perpaduan warna hijab merah muda dan ungu yang melingkar di kepalanya membuat Rani tampil tak biasa hari ini. Hari ini adalah hari bahagianya, telah bertahun-tahun ia lewati dalam penantian juga doa. Dan ternyata Tuhan punya cara sendiri dalam mengabulkan harapnya selama ini.
Usia Rani telah menginjak setengah abad, dan lelaki yang mengucap ijab kabul di sampingnya itu adalah lelaki yang usianya terpaut dua puluh tahun lebih muda darinya. Lelaki gagah itu bernama Bagas.

Lelaki yang Diterjang Kantuk Itu

Gambar
*) Kilau hari-hari Dan birunya langit Terhapus rasa indah Terpejam oleh lelah
Sesekali kantuk menerjang Dibiarkannya angin membelai matanya, beberapa saat : Lelah dan kantuk melebur Sementara bunyi langkah kaki yang berlalu lalang tetap terdengar Seakan mengingatkan : Bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang

Masih Tentang Kamu

Gambar
Adakah yang lebih indah? Selain merapal rindu yang tak terbendung Menyebut namamu dalam setiap doaku Dan mengajakmu berkunjung dalam mimpi

Madu

Gambar
“Sayang, apa kamu akan suka bila aku berikan madu?”
“Pasti, Sayang.” Lani tersenyum, tangannya masih sibuk melarutkan gula dalam secangkir teh hangat yang akan disajikan untuk suaminya.
“Benarkah?” Suaminya bertanya lagi.

Menanti Galih Kembali

Gambar
Katanya, ia akan segera kaya raya dan bersedia menikahiku, asal aku mau bersabar menjaga cinta ini agar tidak padam.
Ya, ia berjanji padaku, akan mencintaiku sepanjang usianya. Dan aku percaya itu.
Galih, ia adalah kekasihku sejak enam bulan yang lalu. Ia seorang pekerja keras. Pagi hingga siang hari ia membantu Pak Manta berjualan sayur mayur di Pasar. Sore hari ia beristirahat sebentar, sementara malam hari ia juga mencari pekerjaan tambahan, uang yang dihasilkan pun lebih banyak dibanding hasil upah bekerja dengan Pak Manta.

Penjual Kopi yang Bangun Kesiangan

Gambar
Sepuluh menit lagi menuju pukul sebelas malam. Salim sudah hampir selesai merapikan kumpulan bangku dan meja di kedai kopinya. Kedua karyawannya baru saja pulang beberapa menit yang lalu.
Temperatur ruangan menjadi semakin dingin, bersamaan dengan datangnya seorang wanita berbaju serba putih. Bergegas ia mendekati wanita berambut panjang tersebut sambil menyodorkan daftar menu.