Postingan

[Cerpen] Robusta Terakhir

Gambar
You can’t buy happiness, but you can buy coffee. And that’s pretty close.
“Ini untukmu, robusta favoritmu,” aku menyodorkan beberapa kemasan kopi robusta favoritmu. Aku baru saja pulang dari Temanggung setelah beberapa hari ada pekerjaan dan menginap di sana. Temanggung memang dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar di Jawa Tengah. Dan robustanya terkenal dengan aroma yang lebih harum dibandingkan dengan robusta yang berasal dari daerah lainnya, cita rasa kopi ini tak akan ditemukan pada cita rasa kopi di daerah lainnya.
“Ini favorit kitaaaaa!” ucapmu setengah berteriak.
Kamu mulai bergegas ke pantry, mengambil dua buah cangkir kemudian meracik robusta tersebut untuk kita.
“Secangkir robusta untukku, dan secangkir lagi untukmu,” kamu meletakkan secangkir kopi itu persis di depanku. “Oh iya, secangkir kopi yang ini telah aku tambahkan dengan beberapa sendok cinta,” lanjutmu.
“Jadi secangkir kopi yang akan aku minum terdiri dari 50% robusta asli, dan 50% rayuan gombal?” ucapku, men…

[Cerpen] Rokok Membunuhmu

Gambar
Peringatan! Rokok membunuhmu. Bungkus pertama aku baik-baik saja. Bungkus kedua aku masih hidup. Bungkus ketiga aku belum juga mati. Bungkus keempat aku mulai terluka. Bungkus kelima, jika luka berlanjut hubungi Tuhan.
Barry merintih menahan perih. Puntung-puntung rokok tergeletak di samping tubuh mungilnya. Bulan depan usianya menginjak angka delapan. Entah sudah berapa banyak puntung rokok yang melukai tubuhnya. Lelaki bertubuh kekar itu terus menerus menempelkan puntung demi puntung rokok ke tubuh Barry.

"Ampun Om, sakit Om."

"Ngapain aja lo seharian cuma dapet uang segini, hah?!!"
Barry masih berusaha keras menghubungi Tuhan. "Tuhan, aku ingin bertemu dengan-Mu, aku benci puntung rokok-rokok ini, bisakah Kau panggil aku sekarang?"
Tuhan tak menjawab.
Bungkus keenam air matanya mengalir makin deras. Bungkus ketujuh napasnya masih tersisa. Bungkus kedelapan puntung-puntung rokok itu berhasil mengantarkannya bertemu dengan Tuhan.

Sementara teman-temannya yang l…

[Cerpen] Sepucuk Surat dari Tuhan

Gambar
Sabtu malam, November di minggu pertama, di sebuah taman yang remang-remang, bibirmu dan bibirnya menyatu. Security bertubuh merah dan bertanduk dua itu tengah berjaga, merayu kalian untuk menjiwai gairah muda yang meletup-letup.
Pukul tiga dini hari, security itu masih setia menemani kalian dan muda-mudi lainnya yang tengah berpadu kasih. Makin malam maka semakin banyak sepasang kekasih yang datang, menikmati waktu berjam-jam namun tetap terasa singkat. Yah, begitulah risiko jatuh cinta. Selama apapun akan terasa singkat.
Pukul empat, ayam mulai berlomba menuju garis finish, perlombaan mengepakkan sayap dan seriosa, itu lumrah terjadi setiap hari.
Sepucuk surat datang dari langit, tanpa ada seseorang yang mengantarnya dan tanpa ada perangko di sudut atas amplopnya. Mereka yang tengah terbuai nafsu lantas membuka surat tersebut, kemudian membacanya dengan seksama.
Rupanya surat dari Tuhan: “dan jangan sekali-kali kalian membuat Aku cemburu, sesungguhnya ada jalan yang lebih baik untuk kal…

[Cerpen] Wanita-wanitamu

Gambar
Lagi-lagi kau sebut nama mereka, wanita-wanita yang dekat denganmu, wanita-wanita yang begitu mengagumi & tergila-gila padamu beberapa bulan belakangan ini. Bisakah kau diam barang sehari saja, tanpa menceritakan mereka di hadapanku?
Aku ini kekasihmu, wajar saja bila cemburu mendengarmu dekat dengan yang lain. Kemarin kau baru saja menceritakan Nycta yang tempo hari pitanya berganti-ganti warna. Lalu Lydia yang kau ajak makan malam bersama di sebuah restoran mewah di pinggir pantai. Kemudian ada Anjani yang kau belikan kalung dengan ukiran nama di liontinnya.
Kau bilang aku tak perlu cemburu pada mereka. Apa kau gila? Kau anggap aku ini siapa? Kau bahkan telah melamarku dua minggu yang lalu. Tapi hal itu juga tak mengubah kebiasaanmu untuk tetap dekat dengan mereka.
"Kau benar yakin akan menikahiku?" tanyaku penasaran.
Kau menjawab iya sambil tersenyum, memperlihatkan lesung pipi di bagian kanan dan kiri.
"Lantas bagaimana dengan Nycta? Lydia? Anjani? Dan wanita-w…

[Cerpen] Lisptik untuk Raisa

Gambar
Hati-hati, satu titik cemburu bisa menghasilkan sepercik api. Dua titik cemburu bisa menghasilkan dua percik api, dan begitu seterusnya.
Langkah Deryl akhirnya berbelok ke sebuah toko kosmetik yang terletak di dekat eskalator lantai 3. Pada sebuah etalase berjajar lipstik berbagai warna, dari harga terjangkau hingga harga yang tak wajar. Nude, ruby, safir, amethyst, peach, berry, red chili, pink, blackcurrant, coffe, dan masih banyak lagi.
"Ini yang membuatku selalu lemah dalam memilih, pilihan warnanya terlalu banyak," ungkap Deryl sambil menghela napasnya.
"Kamu pintar memilih istri, tapi mengapa bodoh sekali dalam memilih barang seperti ini?" Wanita di samping Deryl berkomentar.
Deryl tertawa. "Itulah fungsinya aku membawamu ke tempat ini!"
Wanita di sampingnya tertawa kecut. Ia tahu betul watak Deryl, lelaki yang sudah ia kenal semenjak bangku Taman Kanak-kanak, tapi karena suatu hal harus terpisah selama belasan tahun. Dan kini, lelaki yang pernah ada di …

[Cerpen] Rindu Sudah Kedaluwarsa

Gambar
Seperti biasa, aku memotret senyummu, kelak aku akan menyimpannya. Semoga bisa bertahan lebih lama. Biasanya kedaluwarsa dalam beberapa hari. Tapi sepertinya kali ini tidak, semoga saja.
Jogja, 3 April, 19.58 WIB
“Halo sayang, sudah makan?”
“Aku tak lapar,” bibirmu mengerucut.
“Ada apa? Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?”
“Aku rindu kamu, aku benci rindu!”
Aku menghela napas sepersekian detik, kemudian melanjutkan bicaraku, “Sayang, kamu tahu mengapa rindu tercipta?”
Kamu menggeleng. Aku tahu betul, hatimu sedang tidak baik-baik saja. “Agar kita lebih menghargai kebersamaan,” lanjutku, kemudian menatapmu, matamu memerah, ada bulir bening yang hampir menetes dari sana.
Hanya dalam hitungan minggu setelah kami berdua menikah, aku dipindahtugaskan ke Jogja, sementara dia – istriku, tetap menjalankan pekerjaannya di Bandung. Ya, kami terpisah jarak, dan kini sudah menginjak di tahun yang kedua.
Jadwal kerja yang padat membuatku jarang pulang ke Bandung, syukur-syukur aku bisa mengunjunginya s…

[Puisi] Jihan Zahira

Gambar
Ah siapa yang tak jatuh cinta Pada wajah mungil jelita Melihatnya membuatku tak kuasa Tentangnya, ingin kutulis segala
"Jihan tak boleh menangis, nanti Allah Marah", ucapnya Ah, siapa yang tak haru mendengarnya
Usianya baru beranjak tiga Tegarnya bentuk kebesaran hatinya Sungguh kerdil aku merasa Betapa diri ini penuh alpa
Sementara di luar sana Keluh kesah tak terhingga Terucap dari bibir penuh kata-kata Tapi tidak dengan Jihan Zahira
Wahai Allah yang Maha Kuasa Ampunilah hamba yang penuh hina Leburkanlah segala dosa Taubat kami semoga Kau terima * Untuk semua jiwa-jiwa di sana, kuhaturkan segala doa, semoga selalu dalam lindungan-Nya. Oktober 2018 @poetri_apriani